Sabtu, 28 Mei 2011 | By: e_yanuarto

Bagian dari solusi ato masalah ya???


Alam tak akan sadar akan keindahannya sendiri. Tak pernah ingin renungi dalam sejuk dan gersangnya. Langit juga tak pernah meminta pelangi untuk mengindahkannya,tak pernah menyadari betapa  indahnya ia ketika warna anggun sang pelangi melukis biru wujudnya. Seperti itupun aku. Tak pernah menyadadari salahku dibalik kokohnya Aku.
Sebait potongan puisi karya Kahlil Gibran
Menggambarkan kepada kita, terkadang kita kesusahan untuk melihat kekurangan ataupun kesalahan diri sendiri tetapi begitu mudahnya melihat seolah-olah kehebatan diri. Mungkin karena itu ada cermin. Cermin yang merupakan benda mati membantu kita untuk memandang diri kita sendiri secara objektif. Rambut kita yang belum rapi, pakaian kita yang mungkin juga kurang rapi akan terlihat seperti apa adanya. Namun sayang, hanya fisik kita saja yang terlihat. Belum bisa menembus isi diri dan hati kita.
Seiring waktu yang bergulir, bertambah pula usia kita. Seiring dengan bertambahnya usia tentu saja apa yang ada dalam diri kita akan ikut berubah. Bertambah adalah hal yang pasti, namun ke arah yang manakah...???
Menjadi dewasa tidaklah selalu terkait dengan usia. Seringkali justru kita merasa semakin kekanak-kanakan, dikala usia kita bertambah tua... (iya pa yah??)
Menjadi dewasa tidak sama dengan kedewasaan. Menjadi dewasa seringkai tidak diiringi dengan tingkat kedewasaan yang cukup, akibatnya... sikap dan perilaku kita seringkali terlihat kekanakan dan bahkan lucu. So, menjadi dewasa adalah suatu pilihan.

Memang sangat relatif jika kita membicarakan masalah kedewasaan karna tak ada ukuran yang jelas, dan juga tak ada definisi yang tepat, karna masing-masing memiliki persepsi yang berbeda. Tapi, justru persepsi yang berbeda itulah yang menentukan tingkat kedewasaan kita.
Kedewasaan menunjukan tentang bagaimana kita bersikap dan berpikir dalam bahasa ‘cinta’.
bagaimana kita mengubah kemarahan menjadi kesabaran.
bagaimana kita mengubah kekecewaan menjadi harapan.
bagaimana kita mengubah masalah menjadi solusi.
bagaimana kita mengubah kesedihan menjadi harapan kebahagiaan.
bagaimana kita mengolah segala emosi yang timbul dan menjadikannya baik.
bagaimana kita memandang kekuatan diri agar tidak ujub.
bagaimana menyadari kelemahan diri agar terus bergantung kepada yang maha Kuasa..
Rosululloh SAW mencontohkan kedewasaan yang sangat bijak, bagaimana ia tidak menjadi marah ketika mendengar isu istrinya  -Aisyah ra- selingkuh dengan Shafwan Ibn Al-Mu’athal. Sebagai manusia, perasaan ‘cemburu’ wajar adanya. Tetapi Rosullloh tidak langsung mengambil keputusan yang justru bisa merugikannya. Beliau bersikap tenang dengan mencari faktanya terlebih dahulu, beliau meminta nasehat sahabat Ali Bin Abi Thalib dan Usamah Bin Zaid radhiyallahu’anhuma, sehingga akhirnya bisa terlepas dari fitnah yang dibuat oleh orang munafik. Meskipun seorang Rosul, beliau tidak sungkan untuk meminta pendapat dari  sahabat-sahabat tercintanya. Proses meminta pendapat ini juga bisa kita temukan pada saat pasukan Muslim akan berjuang di medan jihad perang Badar. Sungguh pemandangan yang sangat elok.
Seperti sekarang ini, kita hidup ditengah-tengah masyarakat yang menuntut kita untuk saling berinteraksi satu sama lainnya. Dimana dalam proses interaksi tersebut tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dan sebagainya. Tidak berinteraksi secara langsung saja bisa menimbulkan prasangka apalagi yang berinteraksi secara langsung. Jurang permasalahan bahkan pertikaian akan dengan mudah menganga.
Diperlukanlah kedewasaan dalam berfikir, berkata, dan dalam bersikap. Bukan suatu jaminan pasti, yang lebih tua akan lebih bijak dalam menghadapi suatu persoalan yang muncul ke permukaan. Dan, bukan suatu hal yang remeh pula ketika yang muda bisa mengatasinya. Saling dewasa dalam menyikapi persoalan yang ada merupakan benang merahnya. Coba kita tengok bagaimana harmonisnya kaum tua dan muda dalam bekerjasama menyukseskan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Walaupun diselingi dengan perbedaan pendapat, namun mereka tidak mengedepankan ego mereka masing-masing untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Manisnya keharmonisan pada waktu itu bisa kita rasakan dan kita nikmati hingga saat ini. Ya!!! Kuncinya adalah kedewasaan dalam menghadapinya.
Tutur seorang bijak dalam sebuah ‘jamuan surga’, ia menasehati saudaranya yang ia cintai karena Alloh. (Wejangan yang bisa kita ambil hikmahnya untuk mengatasi suatu persoalan yang muncul)
*      Ketika ada masalah, secepatnya kembalikan kepada Alloh SWT. Tidak ada daya dan upaya melainkan datangnya dari pengusaha ini. Tukas pertamanya. (mode on mendengarkan sambil ya ya ya…)
*      Menyiapkan bekal untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul, diantaranya:
-       Kokohkan pendirian; agar kita tidak goyah, bahkan semakin yakin bahwa kita berdiri -dengan izin Alloh- pada kebenaran hakiki.
-       Lapang dada; sebagaimana doa nabi Musa AS ketika menghadapi Fir’aun yang tercantum di Alqur’an surat Thoohaa ayat 25. Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.., Tujuannya adalah supaya tenang dan jernih dalam berpikir, berkata, dan bertindak.
-       Pemikiran mendalam; tujuannya tak lain dan tak bukan agar dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang ada, seperti yang tercantum dalam surat Al Baqoroh ayat 269, “Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”
-       Perluas wawasan; supaya bisa memunculkan ide-ide segar dan solutif.
-       Terus bekerja; sebaik apapun konsep atau ide, tanpa ada realisasi kerja hanya akan menjadi angin lalu alias omdo.
Semoga kita senantiasa menjadi hambaNYA yang terus tumbuh kedewasaannya, amiin…
Wallohu a’lam…

0 komentar:

Posting Komentar